Selasa, 10 Oktober 2023

Wall Street Merana Akibat Perang Israel-Hamas!

 


PT Kontakperkasa -  Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street dibuka kompak di zona merah pada perdagangan Senin (9/10/2023) akibat tekanan dari konflik mematikan Israel-Hamas, diperparah inflasi dan tingginya suku bunga.
Dow Jones dibuka terkoreksi 0,17% di posisi 33.350,06, sementara S&P 500 melemah 0,47% di posisi 4.288,22, begitu juga dengan Nasdaq turun 0,98% diposisi 13.229,46.

Konflik Israel-Palestina memanas pada hari Sabtu setelah kelompok militan Hamas melancarkan invasi, yang tampaknya mengejutkan Israel. Lebih dari 700 warga Israel tewas dalam apa yang disebut Hamas sebagai Operasi Banjir Al Aqsa, dan setidaknya 490 warga Palestina tewas dalam serangan balasan Israel di Jalur Gaza. Sebagai informasi, Hamas adalah kelompok perlawanan Israel yang didukung oleh Iran dan telah memerintah Jalur Gaza sejak 2007.

Meningkatnya ketegangan geopolitik yang disebabkan oleh konflik tersebut dapat berdampak pada pasar energi, dan beberapa ahli memperkirakan akan terjadi "lonjakan mendadak" pada harga minyak. Meningkatnya ketegangan juga dapat memicu volatilitas lebih lanjut di pasar yang membuat pelaku pasar khawatir akan inflasi yang terus berlanjut dan suku bunga yang lebih tinggi.

Melansir CNBC International, Minyak mentah berjangka WTI naik 3,8% pada Senin, diperdagangkan di atas US$ 85 per barel. Meski pasar secara keseluruhan terkoreksi, Perusahaan pertahanan dan minyak besar melonjak di tengah serangan itu. Saham Lockheed Martin dan Northrop Grumman Corp melesat masing-masing 4,9% dan 3,6%, dalam perdagangan pra-pasar.

Harga minyak mengalami rebound, pasca kejatuhan yang terjadi pekan lalu. Minyak mentah Brent tergelincir sekitar 11% dan West Texas Intermediate (WTI) AS mencatat penurunan sebesar 8%.

Meskipun Israel dan Palestina bukanlah pemain utama dalam sektor energi global, kedua negara tersebut berlokasi di kawasan penting untuk produksi minyak yang dapat mempunyai implikasi lebih luas.

OPEC+, kartel minyak yang mencakup Rusia yang bukan anggota OPEC, akan tetap berhati-hati dalam setiap langkah untuk memperluas produksi minyak lebih lanjut dan mengubah rencana pengurangan, kata Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman kepada CNBC pada hari Minggu.

Di sisi lain, tekanan bursa saham terjadi seiring dengan imbal hasil Treasury 10-tahun mencapai level tertinggi dalam 16 tahun pada awal minggu ini. - PT Kontakperkasa

Sumber : cnbcindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar